Sunday, November 17, 2013

Cagar Alam Lo Pat Foen Pi



Walau pun kecil namun kawasan ini merupakan kawasan yang sudah lama diperuntukkan sebagai kawasan konservasi. Ditetapkan berdasarkan Zelber Bels Fan Sambas dd. 23 Maret 1936 dengan luas 7,8 Hektar dan berdasarkan Besuilt 15 April 1937, No. 15 (Residetie Wasterafdeeling Van Borneo, Afdeeling en Onderafdelling Singkawang) dengan luas 7,79 Ha. Kemudian kawasan ini ditunjuk sebagai Cagar Alam Lo Pat Foen Pi berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 757/Kpts/Um/10/1982 tanggal 12 Oktober 1982 dengan luas 7,8 Ha. Cagar Alam Lo Pat Foen Pi secara administrasi terletak di Kecamatan Monterado Kabupaten Bengkayang. Merupakan daerah dataran rendah dan daerah rawa dengan gambut yang tidak begitu tebal serta sebagian merupakan hutan kerangas
 Potensi Cagar Alam Lo Pat Foen Pi yang pernah tercatat dan menjadi ciri khas adalah anggrek batik ( Vanda hookeriana). Sedangkan jenis anggrek lainnya yaitu anggrek Arundina graminiflora, Plocoglothys lowii, Dendrobium sp, Bulbophyllum sp dan Trixpermum sp dan untuk jenis tanaman Nepenthes antara lain  Nepenthes mirabilis, Nepenthes gracilis dan  jenis yang paling banyak ditemuiNepenthes ampularia dengan berbagai macam variasi warna dan ukuran kantong. Nepenthes ampularia tumbuh menyebar dalam kawasan ini, kantung – kantungnya tumbuh meluas di permukaan tanah sehingga menyerupai karpet yang bercampur dengan serasah. Seluruh jenis dari Genus Nepenthes merupakan tanaman yang dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar. Jenis Satwa yang pernah ditemukan dalam kawasan ini yaitu biawak (Varanus borneensis), kancil (Trangulus sp), trenggiling (Manis javanica), monyet ekor panjang (Macaca fasciscularis) dan beberapa jenis burung salah satunya yaitu Burung Cucak Rawa (Pycnonotus zeylanicus) namun saat ini satwa – satwa tersebut sudah sangat sulit dijumpai.
Kecilnya luas kawasan, serta lokasinya yang berada tidak jauh dari pusat Kecamatan Monterado pemukiman, perladangan, , perkebunan serta penambangan emasdi sekitarnya. mempengaruhi keberadaan Flora dan Fauna. Tekanan terhadap kawasan semakin tinggi ketika pada kenyataannya Cagar Alam ini langsung berhimpitan dengan jalan utama desa, pemukiman serta kebun karet dan sawit milik warga tanpa adanya zona yang menyangga.
Meskipun demikian, keberadaan kawasan ini tetap menjadi sebuah tanggung jawab dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Barat melalui Seksi Konservasi Wilayah III Singkawang untuk melakukan pengelolaan.. Saat ini dalam rangka pengelolaan khususnya  sebagai upaya perlindungan terhadap kawasan, ditunjuk seorang staf untuk menjadi kepala Resort Cagar Alam Lo Pat Foen Pi dibantu oleh seorang anggota Manggala Agni yang memiliki kediaman tidak jauh dari kawasan. Mereka bertugas untuk melakukan pengawasan, penyadar tahuan pada masyarakat sekitar serta berkoordinasi dengan pihak – pihak terkait. Secara umum masyarakat sekitar kawasan telah mengetahui status kawasan Cagar Alam Lo Pat Foen Pi merupakan kawasan yang dilindingi oleh Undang - undang sertalokasinya yang berada dekat dengan  Kepolisian Sektor Kecamatan Monterado membuat pengamanan kawasan menjadi lebih mudah dilakukan.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2011 Tentang Pengelolaan Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam, Lo Pat Foen Pi termasuk dalam kelompok Kawasan Suaka Alam sehingga keberadaannya perlu di perhatikan dengan sebaik – baiknya, seperti yang tercantum dalam pasal 13 yang menjelaskan bahwa Penyelenggaraan KSA dan KPA dilakukan oleh Unit Pengelola yang dibentuk oleh Menteri dalam hal ini BKSDA Kaliman Barat, meliputi kegiatan perencanaan, perlindungan, pengawetan, pemanfaatan dan evaluasi kesesuaian fungsi. Perencanaan menjadi point pertama dan utama dalam rangka menuju pengelolaan kawasan yang baik. Dalam perencanaan meliputi kegiatan inventarisasi, penataan kawasan dan penyusunan rencana pengelolaan. Maka berdasarkan Peraturan Pemerintah tersebut BKSDA Kalimantan Barat perlu menjalankan amanah kebijakan yang tertuang dalam PP 28 Tahun 2011 pada kawasan Cagar Alam Lo Pat Foen Pi seperti yang telah dilakukan pada kawasan Konservasi lainnya yang ada di Kalimantan Barat. Sehingga Si Kecil Lo Pat Foen Pi mampu memenuhi tujuan konservasi yang diharapkan dari sebuah kawasan Konservasi.

Monday, May 13, 2013

ALBERTUS TJIU; PENGABDIAN TANPA BATAS UNTUK KEBERLANJUTAN HIDUP ORANGUTAN dan HABITATNYA



Media Indonesia 14 Februari 2012 memaparkan mengenai Sosok 42 Anak Negeri, dan di urutan ke 25 seorang Albertus Tjiu menjadi sosok pilihan atas pengabdiannya terhadap Orangutan. Kebanggaan yang diperoleh dari seorang anak bangsa kelahiran Sambas tanggal 9 Februari 1972 ini diraihnya dengan melewati berbagai tantangan. Berikut petikan wawancara yang dilakukan oleh reporter Buletin Entuyut, Hayunieta, terhadap Albertus Tjiu atau yang lebih dikenal dengan panggilan Bang Albert.

Hayunieta-Buletin Entuyut (H-BE) : Bagaimana asal mula anda berkecimpung dalam upaya pelestarian lingkungan, khususnya dalam  penyelamatan satwa yang dilindungi?
Albertus Tjiu (A) : Terkait dengan hutan dan seisinya, saya memang dari kecil sudah menyukai dunia ini. Awalnya berada dari lingkungan rumah saya sendiri, dimana dibelakang rumah saya pada saat itu masih terdapat kebun yang karena tidak terawat jadi seperti hutan, dan disitulah tempat saya bermain, saat itu dengan pemikiran saya yang masih anak-anak, saya beranggapan bahwa hutan memiliki manfaat yang sangat baik bagi kehidupan manusia, baik di masa sekarang maupun di masa mendatang. Ketika saya duduk di bangku SMA saya mengambil jurusan Biologi, dan pada saat akan melanjutkan ke bangku kuliah saya berfikir, orangtua inginnya saya melanjutkan ke Fakultas Ekonomi agar bisa meneruskan dunia bisnis yang telah digeluti orang tua, tapi karena pada dasarnya saya menyenangi Ilmu Alam, maka pada saat mengisi formulir PMDK (Albert masuk Universitas Tanjungpura melalui Jalur PMDK) dipilihan kedua dan ketiga Agro dan Kehutanan menjadi pilihan.
Dan sesuai dengan keinginan saya diterima di Fakultas Pertanian jurusan Kehutanan, sehingga tidak ada alasan bahwa saya menolak keinginan mereka untuk terjun di dunia ekonomi. Kecintaan saya akan alam semakin terasah dengan keterlibatan saya di Sylva Indonesia dan duduk di Divisi Riset. Ketika duduk di semester VI saya terlibat di Lab. Silvikultur, dan pada saat libur semester saya ikut-ikut survey, nah bermula dari situlah saya bisa mengaplikasikan teori yang saya miliki dengan prakteknya dilapangan.
(H-BE) : Kalau kita berbicara mengenai hutan dan seisinya tentu banyak hal yang akan kita peroleh, namun sepertinya Bang Albert lebih enjoy dengan dunia fauna khususnya Orangutan, apa daya tariknya sehingga Bang Albert terjun dengan total untuk mempelajari dan sekaligus melakukan aksi untuk Orangutan ini?
(A) : Sebenarnya ketika berbicara tentang alam sebenarnya saya berangkat dari ilmu tumbuhan / botani yang saya fahami pada saat duduk di bangku SMA. Namun mulai tahun 1996 – 2004 saya memang mendalami ilmu botani, dan ketika saya mengikuti penelitian pertama tentang orangutan, ternyata bukan hanya satwanya saja yang dipelajari namun pakannya juga menjadi hal yang sangat penting untuk diketahui, disini ada korelasi positif antara kegiatan saya (sebagai pendamping peneliti) dengan ilmu yang saya miliki, disinilah saya mulai berkeinginan untuk memahami lebih jauh mengenai dunia orangutan. Khususnya berbicara mengenai orangutan pada tahun 2004 WWF diundang untuk menghadiri pertemua PHVA (Population Habitat Viability Acces) untuk Orangutan di Ragunan,Bogor (Bang Albert gabung di WWF pada tahun 1996), disana hadir  expert orangutan dari seluruh dunia, dan pada saat membahas mengenai identifikasi Sub Spesies Pongo Pygmaeus di Borneo, ternyata untuk Sub Spesies Pongo pygmaeus pygmaeus dan Pongo pygmaeus wurmbii informasi yang diperoleh masih sangat minim, berangkat dari keprihatinan ini saya bertekad untuk mendalami mendalami dan menggali informasi tentang Sub Spesies Pongo pygmaeus khususnya yang ada di Kalimantan. Populasi dan kantung habitat Pongo pygmaeus ini berada di Kapuas Hulu, WWF memfokuskan diri di Kapuas Hulu untuk melakukan riset mengenai orangutan bekerjasama dengan PHKA.
(H-BE) : Bagaimana kondisi populasi Pongo pygmaeus saat ini ?
(A) : Secara umum di Kalbar dari 3 sub spesies di Kalbar ada 2 sub spesies yaitu pongo pygmaeus pygmaeus dan Pongo pygmaeus wurmbii. Nah untuk kedua sub spesies yang ada di Kalbar, berbicara mengenai habitatnya perkiraan populasi di awal tahun 2004 perkiraan terdapat 2500 orangutan, namun bisa kita lihat dari pemberitaan akhir-akhir ini bahwa habitat dan jumlah populasi pongo pygmaeus ini mengalami penurunan yang cukup tinggi dikarenakan semakin luasnya perubahan kawasan yang dijadikan kebun. Sebenarnya ini dapat dijembatani jika ada keterlibatan banyak pihak. Untuk di TNBK sendiri menurut survey tahun 2005-2006 di TNBK terdapat 1030 orangutan. Nah ketika berbicara mengenai penyelamatan orangutan ini, bukan hanya orangutan nya saja yang diselamatkan namun juga kita mempunyai misi untuk menyelamatkan hutan, karena orangutan tanpa hutan tidak mungkin mereka dapat hidup secara alamiah. Di hutan mereka bisa menjadi penyebar benih, jadi dalam siklus ekologi ou memiliki peranan sangat penting dalam membantu penyebaran benih.
(H-BE) : Kalau saya tidak salah orangutan itu mengandung virus yang berbahaya bagi manusia?
(A) : Ya sebenarnya kalau kita berbicara keterkaitan antara orangutan dengan manusia, seperti kita tahu bahwa dalam Bahasa Inggris orangutan dikatakan sebagai “Man of Forest” – manusia dari hutan – dari segi penamaan saja ada kaitan sangat erat. Dari riset genetika orangutan dan manusia memiliki kesamaan genetika sebesar 97 %. Dari kesamaan genetika ini apa yang dialami manusia dan apa yang dialami orangutan, mereka memiliki kedekatan yang sangat erat sehingga kemungkinan untuk saling mempengaruhi cukup tinggi, contoh jika orangutan itu terkena penyakit malaria atau typus dan dalam kondisi dipelihara oleh manusia maka manusia yang memelihara itu akan dengan mudah tertulari penyakit yang diderita oleh oarangutan itu, demikian pula sebaliknya. Nah inilah mengapa ketika kita berbicara orangutan sudah sepantasnya mereka berada di habitatnya, tidak berada bersama dengan manusia atau dikandang.
 tinggi, contoh jika orangutan itu terkena penyakit malaria atau typus dan dalam kondisi dipelihara oleh manusia maka manusia yang memelihara itu akan dengan mudah tertulari penyakit yang diderita oleh Orangutan itu, demikian pula sebaliknya. Nah inilah mengapa ketika kita berbicara orangutan sudah sepantasnya mereka berada di habitatnya, tidak berada bersama dengan manusia atau dikandang.
(H-BE) : Apa yang sudah dilakukan oleh pihak-pihak terkait (baik pihak pemerintah, swasta ataupun NGO) mengenai misi penyelamatan orangutan ini?
(A) : Sejauh ini walaupun belum bisa dikatakan maksimal namun sudah ada upaya-upaya yang berkelanjutan dari seluruh pihak dalam rangka penyelamatan orangutan. Kementerian Kehutanan dalam hal ini Balai KSDA sebagai UPT di daerah yang memiliki management authority sudah meningkatkan peran aktif dalam upaya penyelamatan orangutan. Pihak swasta baik itu dari perusahaan meskipun jumlahnya masih sangat minim namun sudah ada keinginan untuk bersama-sama melakukan misi penyelamatan orangutan, dan pihak NGO terus berupaya untuk meningkatkan kapasitasnya dalam kegiatan penyelamatan orangutan dan habitatnya.
(H-BE) : Apa suka dan dukanya selama berkecimpung di dunia orangutan ini?
(A) : Suka : Proses perjalanan penyelamatan orangutan dan habitatnya mulai dari tahun 2004 sudah mulai didukung oleh banyak pihak baik itu pihak pemerintah, swasta, masyarakat maupun dari NGO. Bukan hanya sekedar dalam bentuk perhatian yang menjadikan orangutan sebagai issu strategis, namun lebih dari itu upaya dari aparat penegak hukum juga sudah terlihat, seperti yang kita tahu sudah 2 kasus orangutan yang sudah masuk P.21, bahkan sudah ada yang dijerat hukum dengan hukuman 8 bulan penjara dan denda 10 juta rupiah. Hal ini semakin memberi angin segar bagi para pemerhati orangutan untuk terus bersemangat dalam upaya konservasi Orangutan.
 Duka : Hahaha..sebanarnya kalau bicara dukanya karena konservasi orangutan ini merupakan issu yang melibatkan banyak pihak maka tentunya perlu upaya yang sangat keras dalam menggandeng para pihak untuk dapat duduk bersama berdiskusi membicarakan strategi konservasi orangutan kedepan, dan sayangnya masih banyak pihak swasta dalam hal ini pihak perusahaan yang usahanya bersinggungan langsung dengan habitat orangutan merasa bahwa pada saat mereka diundang untuk berdiskusi seolah-olah mereka akan “disudutkan”, padahal sebenarnya kan tidak seperti itu, justru kita menjembatani untuk bersama-sama mencari solusi yang terbaik dalam upaya penyelamatan orangutan dan habitatnya, bukannya ingin menghakimi mereka. Nah disini perlu upaya yang keras dari kawan-kawan NGO pada khususnya untuk lebih mendekatkan diri dalam memberikan pemahaman ini. Disini mungkin dukanya bahwa perlu strategi khusus mengenai ‘engagement’ untuk menyelaraskan antara konservasi lingkungan dan produksi yang merupakan dua sisi mata uang yang berbeda.
(H-BE) : Terakhir, apa harapan dari Bang Albert sebagai seorang konservasionist dalam upaya konservasi orangutan ini ke depan?
(A) : Kita adalah bagian dari civil society, maka mulai dari lingkungan rumah kita sudah dapat berbuat banyak terhadap lingkungan yaitu dengan menciptakan rumah sehat, bersih dan hijau, dengan membiasakan diri mulai lingkungan terkecil maka ini akan terbawa ke lingkungan yang lebih besar. Harapan yang kedua khususnya adalah agar seluruh pihak yang terkait dalam upaya konservasi orangutan ini tidak hanya sekedar menjalankan tupoksi yang akan berakhir dalam tumpukan laporan, namun lebih dari itu diharapkan ada kerelaan untuk menjalaninya sebagai suatu kewajiban dalam upaya menyelamatkan alam sebagai harapan kehidupan saat ini dan masa yang akan datang.
Demikian wawancara singkat yang dilakukan bersama Albertus Tjiu disela-sela persiapan meeting mengenai Orangutan. Terlihat dari pancaran wajahnya harapan besar untuk kehidupan Orangutan yang lebih baik.